Saya Tahu Kita Beda (Apa Itu Penting)?

Diversity
source : google

Dari mana saya tahu kita beda? Padahal seluruh keluarga besar saya menganut agama yang sama, beberapa saudara bahkan dikenal sebagai guru mengaji diataranya ada yang memiliki tempat khusus (kalau bisa itu disebut Pesantren), menikah dengan laki- laki atau perempuan yang dalam kartu identitasnya bertuliskan agama Islam, tidak masalah pakai kerudung atau tidak. Kata Ibu, pakai kerudung itu soal kesadaran saja. Perayaan besar dalam keluarga kami adalah hari raya Idul Fitri dan Adha juga penyambutan hangat ketika seorang kerabat pulang beribadah haji. Berbagi kurma (tentu saja) dan sajadah jika ada.

Hingga saya mengenal seorang yang kemudian menjadi sahabat karib. Ia rajin beribadah di setiap Minggu dan rajin mengingatkan saya sholat dzuhur di sela istirahat sekolah. “Apa kamu makan Babi?” tanya saya suatu ketika. “Iya, saya makan. Di rumah nenek saya di pulau sana kita punya ternak Babi,” katanya. “Bagaimana rasanya?” tanya saya lagi. “Enak” jawabnya singkat sambil mengambil mie instan yang saya terima dari mahasiswa PKL asal Korea. “Kamu jangan makan ini ada porknya.”

Ia tidak pernah absen mengucapkan selamat Idul Fitri dari tahun ke tahun dan ikut meminta maaf lahir batin, juga sering keceplosan ucap Alhamdulillah. Tidak ada perbedaan berarti dalam pertemanan kami kecuali ketika ia merayakan Natal. Ibu saya bilang, “tidak boleh mengucapkan Selamat Natal, tapi kalau mereka ucapin Idul Fitri ya gak papa.” Tapi akhirnya diam- diam saya mengirim pesan singkat berupa, “Cie yang besok natalan, bagi kue dong.”

Pernah juga saya diajak Ibu untuk berkunjung ke rumah teman bapak. Katanya untuk silaturahmi karena keluarganya memang sudah dianggap bapak seperti saudara sendiri. Ketika berada di depan rumahnya ibu saya mengucapkan Assalamualaikum dan dari dalam rumah dijawab Walaikumsalam. Tidak lama Ibu saya berbisik, “emih lupa kalau temen bapak bukan Islam, mereka tersinggung gak ya emih ucap salam.” Saya cuma mengangkat bahu (waktu itu usia saya kira- kira 11 tahun). Ketika pintu terbuka tidak ada sedikitpun ketersinggungan di wajah mereka, malah mempersilakan dengan ramah untuk masuk ke dalam. Apa mereka tahu dan pernah baca buku tentang anjuran Nabi Muhammad untuk mengistimewakan tamu?

Pertama kali saya melihat perempuan bercadar dengan nyata (bukan dari televisi) adalah ketika melihat penampilan Umi. Tetangga baru yang membuka warung kecil di depan rumahnya. Saya tidak tahu nama aslinya, tapi ibu saya memanggil perempuan itu juga dengan sebutan Umi. Waktu itu Ibu setiap hari belanja kebutuhan di warung Umi, dan pulangnya selain membawa sayur dan minyak goreng kadang juga membawa majalah Islam atau bacaan Islami yang topiknya selalu tentang keluarga. “Ini punya siapa?” tanya saya sambil menunjuk tiga majalah ukuran kecil. “Dipinjemin sama Umi.” Penasaran dengan penampilan Umi akhirnya saya bertanya, “Emih pernah liat Umi waktu gak pake cadar?” Ibu saya mengingat, “Pernah, waktu itu yang ke warung cuma emih dan kayaknya Umi lagi buru-buru.” “Umi cantik gak?” tanya saya lagi. “Ya cantik, Umi putih mungkin karena wajahnya ketutup terus.” “Kenapa Umi bercadar, mih?” “Karena dia mau pakai cadar.”

Hingga bertahun- tahun kemudian ini yang saya ingat dan saya pahami bahwa kita memang beda dan dicipta untuk menjadi beda dan itu tidak menjadi soal seperti yang Gus Dur bilang, “tidak penting apa latar belakangmu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang lebih baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu, apa sukumu, apa latarbelakangmu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s