Ada Apa dengan Berat Badan?

photogrid_1436446654610
Foto ini dibikin ‘ntah oleh siapa ditemukan di group kelas waktu itu 😦

Sejak SD saya memiliki tubuh yang tinggi berisi (bongsor kalau kata ibu saya) dan itu bawaan dari keluarga bapak walaupun secara fisik bapak tidak tinggi-tinggi banget tapi Uwa dan Bibi (kakak dan adik bapak) punya badan yang tinggi besar. Karena bongsor inilah saat sekolah dasar saya diberi kesempatan untuk ikut lomba senam, gerak jalan 17 Agustus, juga pembawa bendera di upacara Senin.

Hingga SMA badan saya stabil tinggi dan berisi dengan berat 50 Kg dan tinggi 160cm. Tidak ada masalah apapun dalam tubuh saya dan tidak terpikir sama sekali untuk diet. Sampai saya kuliah memasuki semester 3 dan pulang ke rumah, keluarga dan teman-teman sepakat bilang kalau saya “anak kosan yang gagal” karena bertambah subur. Saya sih gak ngerasa cuma kalau lagi ngaca keliatannya ini pipi agak chubby aja.

Pas ditimbang, alamak… berat badan saya naik 10 Kg kok saya gak merasa ada perubahan apa-apa ya selain pipi agak chubby, dan jeans saya jadi gak muat (waktu itu masih punya jeans). Ternyata orang lain yang bisa melihat perubahan drastis yang terjadi pada tubuh ini, saya sih cuek-cuek aja.

Tapi saya jadi mikir, selama satu tahun tinggal di Bandung apa aja sih yang saya makan? Saya ingat-ingat ternyata waktu itu suka banget cemilan jenis gorengan. Cemilan ini wajib saya beli setiap hari. Beli gorengan itu gampang dimana-mana ada, di depan kampus, di kantin, di deket kosan, depan masjid bahkan ada yang jual risol sampe ke dalam kelas.

Gorengan yang wajib dibeli kalau lewat depan kampus itu roti goreng yang suka mangkal deket Damri di dalam rotinya dikasih oncom dan bumbu-bumbu, itu enak banget.

Ditambah makanan- makanan yang baru saya temui, waktu itu gak ada di Serang kayak Lumpia Basah, Seblak, Pisang Karamel, Batagor kuah, Cilok kuah dll. Dasar emang hobi makan. Pernah pertama kali cobain lumpia basah ketagihan sampe enam hari berikutnya beli lumpia basah terus dan gak ada bosennya.

Tapi berkat itu semua lemak ditubuh saya meningkat. Dari situlah saya sadar ternyata minyak itu jahat banget ya. Bikin cepet eungap (cepet cape), bikin celana baju pada kekecilan, dan bikin orang-orang yang ketemu sama saya pasti bilangnya, “kamu gendutan ya.”

Secepatnya saya merencanakan gerakan diet ekstrem, dari mulai makan selalu pakai tomat, minum teh pait, enggak makan nasi (ini gak kuat) sampe nanya ke kakak sepupu yang kerja di Klinik “Teh ada obat diet gak? Pengen kurus nih,” dijawab “Jangan pake obat-obatan pola hidup sehat aja.”

Oia bebarengan dengan bertambahnya lemak, saya juga sering kesusahan untuk “kebelakang” dan itu sangat menyiksa. Sebabnya saya kekurangan serat, kekurangan asupan sayur. Ibu kos saya (yang baik hati) selalu mengingatkan jangan lupa makan sayur.

Akhirnya saya insaf (dan melupakan diet ekstrem) dan memulai untuk hidup sehat ala saya dengan memulai mengubah pola pikir sendiri untuk membantu melupakan gorengan yang melenakan itu. Saya umpamakan gorengan sebagai lemak (sebelumnya saya lihat dulu gambar-gambar lemak mentah di internet) jadi begitu saya lewat depan penjual gorengan, pikiran saya sudah bilang duluan, “tu liat ada yang jual lemak.” Saya pun berlalu karena gak mau menumpuk lemak di tubuh.

Kedua, saya harus makan dengan sayur. Saya tidak bisa makan, kalau tidak ada sayur. Sayur itu wajib jadi saya merasa kurang kalau makan tanpa sayur. Dari mengubah pola pikir ini, akhirnya saya suka berbagai macam sayur (termasuk sekarang saya suka pare dan daun papaya yang pahit wooo amazing).

Diet cemilan gorengan ini tanpa terasa saya lakukan selama 5-6 bulan (lupa durasi tepatnya) waktu itu saya memasuki semester 6 dan berat badan menjadi normal kembali di angka 55 Kg dengan tinggi badan sekitar 165 (saya bertambah tinggi 5 cm). Sampai ada dosen di kelas yang nyeletuk, “tu naha sekarang mah asa begang? (tu, kenapa sekarang kurusan?) Yaampun bu segitu perhatiannya.

Kisaran normal berat badan di angka 54,55,56, Kg bolak-balik disitu terus. Waktu wisuda berat badan juga turun akibat skripsian yang menguras emosi jiwa. Tapi waktu itu gak tau pasti berat badannya berapa soalnya gak sempet untuk nimbang berat badan.

img-20150829-wa0017
Foto setelah Sidang Skripsi Ka-Ki Sarah, Ratu, Cika

Turun berat badan ter-ekstrem yang pernah saya alami beberapa waktu lalu, saat saya berada di Pare, Kediri Jawa Timur kurang lebih 2 bulan. Warung makan di Pare tidak menggugah selera makan saya yang lidahnya sunda banget, rata-rata makanan disana manis dan tidak asin. Untuk membuat saya tetap makan saya memilih untuk perbanyak sayur dan minum jus ada sih soto enak tapi tempatnya jauh (tapi akhirnya saya menemukan warung makan yang enak juga). Ditambah untuk pergi kemana-mana saya harus gowes sepedah juga program kursus yang ketat karena pake sistem asrama dan otomatis mengurangi waktu tidur siang hahaha. Dan jengjeng… minimnya asupan garam ke tubuh dan gowes rutin ternyata membakar lemak saya sebanyak 6 Kg. (Baca : Tu Sehat, Kamu Lagi Apa di Pare?)

Waktu pulang ke rumah ibu saya bilang, “yaampun kurus banget!” Dan beberapa minggu di rumah sudah cukup memulihkan berat badan saya, tidak sepenuhnya sih tapi cukup lumayan gak terlihat kurus banget yaitu 53Kg tinggi 167 Cm.

Ini beberapa catatan soal bagaimana saya mengatur agar tubuh mendapat asupan yang baik dan tidak gampang sakit (ini bukan tips diet yaa hahahaha)

1. Perbanyak minum air putih setiap hari, sebelum tidur dan saat bangun tidur

2. Jangan lupa sarapan

3. Makan siang tepat waktu jangan lupa pakai sayur ya

4. Usahakan porsi sayur dan daging lebih banyak dari nasi

5. Karena tidak terlalu suka air dingin untuk menyiasati cuaca panas di Jakarta biasanya kalau lagi di kantor saya minum air putih di tambah potongan lemon gak usah banyak-banyak cukup ½ buah di potong-potong. Seget banget

6. Saya gak suka makan malam kecuali ada yang ngajak 😛 (ini fakta hehehe soalnya saya pulang kerja dan sampai kosan sekitar jam 9 dan rasanya males banget untuk beli makan sendirian)

7. Kalau lagi gejala flu jangan langsung minum obat warung tapi coba beli madu dan buah (tapi kalau gak sembuh-sembuh langsung ke pelayanan kesehatan terdekat ya)

8. Ini yang penting, aturan makan diatas gak perlu takut kamu langgar. Misalnya waktu kamu lagi ketemu keluarga, kongkow bareng temen, saat liburan atau dateng kondangan makanlah apapun yang kamu mau termasuk gorengan. Beri tubuh kamu kesempatan untuk mencicipi anugrah dalam bentuk makanan TAPI jangan berlebih DAN dihari-hari biasa kamu HARUS kembali memilih makanan-makanan yang mudah dicerna dan hindari junkfood/ fastfood ya. Oia memasak sayur itu jauh lebih mudah ketimbang masak daging (alasan pribadi hehehe).

9. Harus bisa mengenali tubuh sendiri karena kebutuhan setiap tubuh itu berbeda-beda.

10. Satu lagi saya termasuk orang yang mager untuk meluangkan waktu yang khusus untuk olahraga kaya lari di stadion atau main bulutangkis (ini jangan ditiru).Tapi (beruntungnya) saya suka senam (atau nari?). Nah, kalau lagi bête, banyak pikiran dan pengen tidur nyenyak biasanya saya liat tutorial senam di youtube dan senamlah saya sebelum tidur. Durasinya 5-7 menit, tapi itu cukup membantu bikin fresh tubuh saya.

Itulah cerita pengalaman naik- turun berat badan. Berapapun berat badan kamu, selalu ingat hak tubuh yaitu memberi asupan berbagai nutisi. Kalau gak bisa makan daging setiap hari, usahakan untuk makan sayur setiap hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s