4/8 Malam

img-20160313-wa0043

20.35

Sebelum tidur tidak seperti biasanya saya melafalkan doa yang dipelajari sewaktu taman kanak-kanak, kemudian bilang dalam hati, sambil menepuk-nepuk kaki.

“Ayo badan waktunya istirahat.”

Kemudian saya mendengar seseorang akan menikah dalam waktu dekat. Saya  kaget. Tapi saya diam saja. Perkara jodoh bukanlah hak saya. Teman-teman terdekat yang tahu saya pernah dekat dengannya ikut sibuk menjadwalkan pertemuan antara saya dan dia. Takut-takut ada yang belum selesai diantara kami. Saya datang pada hari yang telah mereka atur, saya masih ketawa-ketiwi menanggapi ini semua. Saya juga bilang, “ya mungkin memang bukan jodohnya.”

Setelah itu saya merasa itu bukan diri saya. Tentu saya merasa kecewa. Ingin rasanya menangis tapi buat apa, ini bukan hak saya. Teman-teman saya bilang dengan jelas, “ikhlasin ya tu,” saya menggangguk yakin.

01.35

Saya mengusapkan air ke wajah, berwudlu. Saya merasa tenang.

03.15

Saya berada di sebuah rumah yang bukan lagi rumah kami, di beranda ada Bapak sedang menunggu kemudian duduk. Saya menghampiri bapak. Jelas sekali bapak bilang sambil menangis kepada saya bahwa dia rindu saya.

Saya menghapus air mata di wajahnya dan saya bilang, “kenapa setiap bertemu pasti seperti ini.”

Seperti mimpi, seumur hidup saya baru pertama kali mengusap air mata di pipi Bapak. Saya juga rindu pak!

05.05

Di rumah saya bertemu dengan emih. Emih tidak seperti biasanya lebih banyak bicara, lebih cerewet, lebih modis seperti ibu-ibu pejabat. Dia bilang pada saya, saya akan dijodohkan dengan anak temannya. Tanggal sudah ditetapkan beberapa hari lagi saya akan menikah. Hari itu juga saya diajak ke rumah calon mertua saya, rumahnya tidak saya kenal begitupun dengan penghuninya , begitu asing. Saya lihat anaknya banyak sekali, dan laki-laki semua. Saya berfikir yang mana nanti yang akan mereka jodohkan dengan saya. Anehnya saya berkujung ke rumah tersebut tanpa pakai kerudung dan tanpa menyisir rambut.

07.15

Saya menghela nafas panjang, malam yang panjang dengan rentetan mimpi (bukan harapan) yang panjang. Saya juga menyesal telah tidur lagi setelah subuh (disini saya bermimpi buruk). Saya butuh kualitas tidur yang lebih baik.  Saya juga akan berdoa untuk Bapak (selalu).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s