Berbekal Survive, Gowes Sepeda Keliling Dunia

Mengunjungi suatu tempat yang belum pernah kita jamah, membaui khas aroma udaranya serta menelisik lebih jauh kearifan lokal dan keunikan prilaku masyarakat, merupakan beberapa tujuan dari orang yang tak sekedar melancong. Sebutan keren saat ini adalah backpaker. Istilah ini dikenal sebagai seseorang yang melakukan kegiatan berpergian ke tempat – tempat tertentu dengan budget secukupnya, fasilitas secukupnya tetapi harus memiliki daya ketahanan tinggi, keingintahuan besar, pandai beradaptasi, serta keberanian yang tinggi.

Jauh sebelum kegiatan backpaker-an digandrungi anak muda, pada tahun 1965 seorang pemuda berumur 22 tahun asal Cimuncang, Banten mulai menapaki sedikit demi sedikit lekukan dunia. Fauna Sukma Prayoga, kelahiran 20 Juni 1963 tidak pernah menyangka impian saat kecil untuk bisa berkunjung ke negara – negara di luar Indonesia akhirnya dapat terwujud. Bermula dari kegemarannya berkirim surat dengan sahabat pena di negara lain, ia melihat gambar – gambar negara Eropa dan Amerika, dari sanalah muncul keinginan untuk melihatnya secara langsung.

Ketika bertemu dengan Fauna Sukma Prayoga di kediamannya Jl.Raya Pandeglang, Km.5 Nancang Cilik Kota Serang, Provinsi Banten pada hari Sabtu, 24 Mei lalu. Ia begitu ramah, mengenakan polo shirt putih dan celana hitam dengan santai ia menyilakan duduk . Garis – garis di wajahnya sudah kentara bahkan rambutnya banyak yang putih. Dari cara berbicara, masih terlihat jelas tanda – tanda gelora semangatnya. Ia menceritakan pengalamannya menaklukan 87 negara dari lima benua dalam kurung waktu lima tahun.

“Ketika itu tekad saya sudah bulat ingin keliling dunia, tapi orang – orang di sekitar gak percaya. Saat saya bilang keliling dunia pakai sepeda, mereka tambah gak percaya,” kenang Fauna saat bercerita tentang pengalaman hidupnya duapuluh empat tahun yang lalu.

Mengelilingi dunia menggunakan sepeda merupakan sebuah kepuasan tersendiri bagi Fauna, menurutnya dengan bersepeda kita lebih bergaul dengan alam, akan menemui banyak tantangan. Kecintaannya pada tantangan serta konsep survive yang diterapkan dalam hidupnya, ditumbuhkan sejak kecil oleh Pramuka yang hingga kini ia menjadi bagian dari organisasi tersebut. Dalam perjalanannya ke berbagai negara, Fauna muda suka mempromosikan objek wisata Indonesia khususnya tempat kelahirannya sendiri, Banten.

Perbekalan untuk perjalanan dari negara satu ke negara lainnya, diperoleh dari keahlian yang ia miliki. Seperti memberikan mengajarkan ilmu-ilmu pramuka kepada anak-anak di Kedubes serta menulis, ketika itu ia berprofesi sebagai wartawan lepas. Keahlian dan daya bertahan yang tinggi berhasil membuat sepedanya mengayuh di lima benua. Banyak kendala yang dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, prilaku juga bahasa. Namun itu semua tidak menjadi penghambat dalam ekspedisi bersepeda keliling dunia ala Fauna.

“Ada satu negara yang amat berkesan dalam hidup saya, yaitu Arab Saudi. Saya tiba di Mekkah pada pertengahan bulan Sya’ban di mana ada sebuah hadiah istimewa dalam hidup. Saya bisa masuk ke dalam Ka’bah yang tidak sembarang orang bisa masuk kedalamnya. Kejadian itu merupakan anugrah yang tak ternilai,” tuturnya sambil menunjuk kearah foto di depan Ka’bah yang sempat diabadikan.

Museum Motivasi

Sekembalinya Fauna dari perjalanan, sekitar tahun 1995 ia membuat sebuah museum pribadi di rumahnya. Museum ini dikenal dengan Museum Sepeda, didalamnya dipajang benda-benda sewaktu Fauna berkeliling dunia. Mulai dari sepeda yang ia gunakan untuk menjajaki negara – negara, koleksi mata uang, momen yang terabadikan dalam foto- foto, serta miniatur sepeda yang diberikan oleh pengunjung museum.

Pemuda yang telah berkeliling dunia itu kini bisa bercerita melaui Museum Sepeda miliknya, Fauna menuturkan maksud dari dibuatnya museum adalah agar bisa menceritakan kepada generasi selanjutnya tentang perjalanan menarik yang telah ia lalui. “Setidaknya nanti ada yang berani keliling dunia, melakukan perjalanan ke negara lain sehingga bisa melihat adat budaya, perilaku masyartakat, bahasa, iklim politik dan lain sebagainya,” ucapnya.

Museum Sepeda ini terbuka untuk umum serta tidak dipungut biaya masuk. Saat memasuki ruangan yang tidak terlalu besar maka akan langsung disambut oleh puluhan mata uang dari penjuru negara.

“Selagi muda, selagi ada kemauan, kejar terus jangan pantang menyerah,” ucap Fauna di sela – sela percakapan. Tunggu apalagi, setelah melihat museum rasanya ingin langsung menengok dan menulusuri negara lain. Fauna yang kini menjadi dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Banten telah menularkan semangat menggebu miliknya. Ia juga menambahkan harus yakin bahwa tugas kita sekarang adalah menanam, terserah saja siapapun nanti yang akan menuai dan menikmatinya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s