Tentang (dan untuk) Emih

Tentang Emih
Saya memanggil ibu dengan sebutan emih. Katanya emih dilahirkan pada minggu pagi, sedangkan saya dilahirkan pada sabtu sore, ba’da ashar. Saya anak pertama dan emih adalah teman pertama yang saya punya. Disetiap ulang tahunnya saya tidak pernah secara khusus membelikannya hadiah, hanya ada ucapan doa atau melalui pesan singkat dan suara dari ujung telepon. Semenjak jauh, ada saja yang saya ingat dari emih, misalnya kalau lagi makan enak, kalau lagi jalan-jalan, liat baju ibu-ibu di pasar, rasanya pingin saja bawakan pingin aja belikan. Padahal emih enggak pernah minta.

Waktu ada yang kirim puisi kepada saya, emih yang pertama saya kasih tau dan baca suratnya. Emih tau semua cerita di sekolah,  kampus, dan tempat kerja, tentang temen-temen dan dosen, guru-guru. Banyak hal yang saya ceritakan.

Sejak dulu emih dan saya selalu di benturkan pada pilihan. Ada beberapa pilihan emih yang saya terima dan ada (banyak) yang enggak. Misalnya ketika memilih baju, emih lebih suka baju dengan motif yang ramai sedangkan saya lebih suka polos. Emih lebih suka model baju yang ribet sedangkan saya lebih suka yang simpel. Emih lebih suka saya masuk Madrasah Tsanawiyah ketimbang masuk SMP, lebih suka saya masuk jurusan akuntansi atau sekretaris dari pada multimedia dan lebih suka kuliah pendidikan dari pada Jurnalistik.

Kenyataannya emih tetap terima saat saya memilih baju polos dan simple, memilih masuk SMP, memilih jurusan multimedia dan kuliah di Jurnalistik. Kenyataanya lagi yang lebih bikin saya gak percaya adalah emih selalu membanggakan saya walaupun saya bukan juara di kelas, bukan anak yang giat, dan juga bukan pemenang olimpiade sains. Belum lama ini, waktu saya wisuda, emih bilang dia bangga saya jadi sarjana (sambil sedikit menanangis karena inget almarhum Bapak). Kata “Bangga” pertama yang saya dengar sendiri dari emih tapi sudah saya rasakan bahkan jauh sebelum saya beranjak dewasa.

Selama emih ridha atas pilihan-pilihan yang saya ambil, selama itu juga saya (berani) melangkah memilih pilihan yang berbeda.

Hingga akhirnya tiba hari dimana saya harus mengabaikan pilihan saya dan mengiyakan pilihan emih. Saya bukan anak yang berbakti, tetapi saya belajar untuk mengikhlaskan apa yang tidak emih ridha-i. Melalui ridhanya semoga Ridha dari Maha Penyayang terbuka selalu memeluk saya dan emih, menjaga saya dan emih dari segala prasangka kami sebagai manusia yang lemah.

1 Syawal 1437 H

Semoga kita menang atas ego dalam diri kita sendiri.

Advertisements

8 thoughts on “Tentang (dan untuk) Emih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s