Antara Pertukaran Pemuda, Tari Merak dan Bahasa Inggris

IMG-20160315-WA0008
Selasa lalu tanggal 15 Maret 2015 saya sengaja mengikuti seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara(PPAN) yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dispapora) Kabupaten Serang angkatan 2016. Ini kali pertama saya mengikuti seleksi pertukaran pemuda, rasa penasaran tinggi membuat saya nekat ikut seleksi. Mendekati hari H seleksi saya ragu, tapi akhirnya berangkat juga dari Bandung menuju Serang.

Kegiatan seleksi dilakukan selama dua hari tanggal 15-16 Maret 2016 di Villa Allisa daerah Pantai Anyar (Ssst villa ini ada di seberang rumah yang dulu, pegawainya banyak tetangga). Sebelum ke acara pembukaan, peserta dibagi kamar. Sebanyak 50 peserta di bagi menjadi 3 orang/kamar. Saya satu kamar dengan dua perempuan, pertama dari Jawilan, Shella Mutiara Yolanda mahasiswi Gunadarma Jurusan Bahasa Sastra Inggris dan Siti Ratnasari asal Pulo Ampel Jurusan Agroteknologi Untirta. Mereka perempuan yang ramah dan keren.

Selain Pertukaran Pemuda Antar Negara, dalam seleksi ini juga terdapat Seleksi Kapal Pemuda Nusantara (KPN) dan Bhakti Pemuda Antar Provinsi (BPAP).
Rangkaian acaranya dimulai jam 2 siang, pembukaan acara dibuka oleh Kepala Diknas Dispapora Bapak Hulaeli Asyikin. Dilanjut stadium general membahas Peran Pemuda di Kabupaten Serang yang dibawakan oleh Sekretaris Dispapora Bapak Jazuli.

Dalam stadium general saya penasaran dengan pendapat dari Bapak Jazuli soal gerakan pemuda di Banten, khususnya Serang. Saya bertanya kepada beliau tentang apakah sudah terasa youth movement di Serang, di lingkungan yang sudah semakin banyaknya universitas berkembang. Dan masihkan pemuda di Banten kebingungan untuk mencari ruang dan role model yang pas untuk diri mereka. Padahal jika ruang-ruang ini semakin berkembang nantinya pemuda di Banten bisa ikut berpartisipasi dalam pembangunan seperti visi misi Dispapora.

Bapak Jazuli ternyata mengatakan kurangnya ruang-ruang yang diberikan kepada pemuda di Serang, faktor-faktor yang ia anggap menjadi penghambatnya adalah tidak ada kerjasama antara pemerintah dengan pemuda, dan adanya ego sektoral yang mengakar. Penjelasan Pak Jazuli cukup menjelaskan keadaan pemuda di Banten, saya setuju dengan pandangannya.

Seleksi untuk PPAN, KPN dan BPAP dimulai pukul 7 malam. Seleksi pertama adalah tes tulis, peserta PPAN paling banyak mendapatkan soal, ada 100 butir soal yang semuanya memakai Bahasa Inggris. Untuk menjawab pertanyaan diberikan waktu 60 menit. Setelah selesai, kami diberikan waktu mengganti kostum untuk pentas seni. Saya memaki kostum tari merak. Tari yang gerakannya baru saya pelajari satu minggu sebelumnya. Terasa nekat tapi ini tantangan buat saya.

Sebelum pentas seni, kami dipersilakan untuk duduk melingkar untuk sesi wawancara tentu mengunakan Bahasa Inggris. Pertanyaan general seperti apa motivasi anda, apa yang akan anda bawa ke negara lain, apa yang anda tawarkan, apa yang menarik dari diri anda, apakah anda punya pacar? (what)

Ketika ditahap wawancara ini lah akhirnya saya sadar kalau Bahasa Inggris saya jelek banget, pertanyaan yang bisa saya jawab panjang lebar kalau pakai Bahasa Indonesia akhirnya saya harus berpuas diri ketika saya hanya bisa saya jawab intinya saja. Saya tidak bisa memaparkan dengan detail apa yang saya maksud karena keterbatasan vocab.

Ini bener-bener jadi tamparan buat saya, ketika saya tahu jawaban semua pertanyaan tapi terhambat oleh komunikasi, oleh bahasa. Bahasa yang disetujui bersama dalam forum ini adalah Bahasa Inggris. Awalnya saya merasa inferor, tapi setelah beberapa saat saya berfikir dari pada merasa inferor lebih baik belajar untuk bisa berkomunikasi pakai Bahasa Inggris. Tujuanya sederhana, supaya ketika ditanya tentang suatu hal saya bisa menjelaskannya sedetail mungkin.

Tahap terakhir dari sesi ini adalah pentas seni. Ada yang menari tari Cokek, Ahlan Wasahlan, Debus, Silat dan tari-tarian khas Banten lainnya. Saya keluar tema, tari yang saya bawakan adalah tari persembahan khas Sunda yaitu Tari Merak. Pengalaman kedua nari setelah dulu saya pernah nari Pasambahan khas Minang setahun yang lalu. Ketika menari, gerakan saya agak kacau. Efek dari tahap wawancara benar-benar membuat saya gak fokus. Tapi sebisa mungkin improvisasi.

Saya merasa lebih baik ketika telah melewati semua tahap seleksi, rasa penasaran sudah terpenuhi, dan saya yakin gak lolos tahap selanjutnya untuk kali ini saya pandai mengukur diri hehehe. Sudah ada lima nama yang saya prediksi lolos, rasanya mereka mendaptkan nilai yang cukup baik disemua seleksi. Selamat untuk Wiya, Nisa, Shella, Ratna, dan Dini. We proud of you

Advertisements

5 thoughts on “Antara Pertukaran Pemuda, Tari Merak dan Bahasa Inggris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s