Menunggu Tiga Kata

Jemuran
Aku tahu sore ini akan hujan, walaupun setiap pagi aku mencuci pakaian seperti biasa dan tidak berprasangka. Kubiarkan semua berjalan dengan siklusnya, terik, hujan, lembab, pakaianku tetap kugantung dijemuran. Angin menggoyangkannya, beberapa tidak kujepit jatuh dan kotor. Aku mencucinya kembali. Tergoyang. Jatuh. Kotor.

Minggu berikutnya kubiarkan semuanya tanpa jepitan. Semua kotor. Aku capek nyuci. Tidak tega menggantungnya kembali. Berminggu-minggu kubiarkan saja hingga berjamur. Seorang temanku datang dan bilang “Wajar kalau jatuh dan kotor, yang tidak wajar adalah jemuranmu kosong melompong. Kita hidupkan memang untuk mencuci.”

Nasib hidupku telah digariskan sebagai pencuci. Aku menyukai bagaimana pakaian itu sabar menunggu dalam basah menjadi kering. Ketergantungan mereka pada terik dan angin. Pada jepitan-jepitan yang membuatnya kokoh menggantung.

Selepas sore ini hujan memang minta ijin untuk membasuh luka bumi. Aku mempersilakannya, aku bilang “basuh juga pakaian-pakaianku, biarkan ia tetap menggantung dan tahu bagaimana rasanya menjadi kokoh.” Sampai penantian ini berujung pada tiga kata “Sudah kering, angkatlah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s