Jika Truedreams Movie Tidak (Pernah) Ada

Camera 360

TDM atau Truedreams Movie sudah saya anggap menjadi bagian dari diri. Menjadi salah satu hal yang sering saya pikirkan, bukan tentang eksistensinya tapi lebih pada kebersamaan orang-orang didalamnya. 10 Februari 2015 ia genap berumur tiga tahun. Tidak pernah dihitung berapa jam dalam tiga tahun, waktu yang kami beri atau sengaja kami sisihkan untuknya.

Truedreams Movie terbentuk bukan untuk mendulang ketenaran (terbukti kami jauh dari kata tenar hahaha). Tapi dari niat untuk mendobrak keterbatasan. Dahulu di tahun 2012 para founder yang menemukan dan menggaungkan Truedreams Movie memiliki fakta yang menarik. Mereka tidak memiliki alat rekam seperti camera SLR atau handycam. Pertamakali membuat video, kami menyewa handycam milik senior, limapuluh ribu untuk satu hari. Pernah pula belajar angle dari buku-buku fotocopy yang saya punya saat menjadi siswa Multimedia.

Pernah kami berpindah-pindah tempat untuk sekedar mengambil gambar yang sedikit-sedikit. Seperti pergi ke curug, naik bis damri rame-rame, begadang di Stundent Center, sering minjem rumah, dan kosan orang lain, sampe pundung babarengan gara-gara kecapean. Banyak juga video yang terbengkalai karena berbagai hal. Tapi tahukah, ketika sebuah gambar bergerak itu telah selesai dan dipertontonkan pada orang lain rasa lelah itu sudah terbayar lunas. Rasa itu sesungguhnya yang membuat saya ingin kembali pada masa dimana kami tetap tertawa walaupun sebelumnya kami harus mengatasi perdebatan hebat.

Saya sering mengalami perdebatan dengan Maicel, kami sama-sama keras bahkan pernah tidak bicara berhari-hari. Tapi ujungnya, kami semua sadar bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami. Kami harus mengombinasikan ide-ide dari setiap kepala yang ada.

Tiga tahun sudah Truedreams Movie bersama kami, ditengah krisis kebersamaan yang akhir-akhir ini kami miliki. Tahun 2015 dirayakan melalui doa, melalui jari-jari tangan yang menuliskan harapan. Semoga doa ini sampai padamu.

Jika Truedreams Movie tidak (pernah) ada, kami tidak pernah belajar untuk mengatasi keterbatasan. Tidak pernah mau belajar untuk bermimpi dan berjalan meraihnya. Tidak pernah belajar untuk mamahami. Tidak pernah mau untuk ngobrol ngalor-ngidul dengan kesimpulan sederhana. Tidak pernah tahu caranya menunggu. Tidak pernah bisa membedakan mana yang diam sedang berpikir dan mana yang diam tapi pundung. Dan Jika Truedreams Movie tidak pernah ada, saya tidak akan pernah bertemu dengan kalian, bertemu pada bingkai mimpi yang sama yang membuat saya dan kalian menjadi orang yang luar biasa.

Hai apakah kalian tidak rindu untuk bertemu dan bilang Camera, Roll and Action (lagi)! Maicel Andrea, Nita Juniati, Ramadhan Setia Nugraha, Oryza, Ratih Prastika, Agung Prawira, Novi Andrianti, M Diky Fadillah, Nurlela, Putu Ayu, Refa Aprianti, Mega Oktaviani, Wahyu, Zamzam dan semuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s