Meneropong Gerakan Pers Mahasiswa Yogya

Foto oleh M.Yusuf
Foto kunjungan ke Pers Mahasiswa Balairung UGM

Pers Mahasiswa memiliki tempat tersendiri dalam gerakan kampus. Ia menaungi mahasiswa yang bukan saja gemar dan apik menyajikan aspirasi mahasiswa dan masyarakat tetapi juga berwacana untuk perubahan nyata. Jauh sebelum itu, sejarah telah mencatat gerakan pers mahasiswa di Bandung yang vokal terhadap gagasan-gagasan serta aktivitas intelektual bernama Mahasiswa Indonesia sebuh koran yang terbit pada 1966. Artikel-artikel yang dimuat dalam Mahasiswa Indonesia menjadi sebuh corong atas pemikiran dan ideologi mahasiswa pada masanya.

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suaka Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung berusaha melihat kembali peran pers mahasiswa saat ini. Mengunjungi empat pers mahasiswa di Daerah Istimewa Yogjakarta. Keempat pers mahasiswa tersebut antara lain Balairung, Ekspresi, Arena dan Pendapa. Sekitar pukul 8 malam, Jumat (28/11) rombongan LPM Suaka melakukan perjalanan menembus ratusan kilometer menuju Yogjakarta.

“Mengunjungi pers kampus di Jogja untuk silaturahmi dan saling sharing mengenai cara kerja serta gerakan yang dilakukan oleh teman-teman pers kampus,” kata Pemimpin Umum LPM Suaka Iqbal Tawakal saat bertemu dengan Balairung, Sabtu (29/11).

Balairung bertempat di Univeritas Gadjah Mada, sekretariatnya berada di Komplek Perumahan Dosen UGM Bulaksumur B-21 yang asri. Ada sekitar tujuh pengurus Balairung yang menyambut. Kami berbincang lesehan di halamannya yang sejuk. Balairung sebagai Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, memiliki empat karya berupa Balkon atau buletin, majalah, media daring dengan alamat balairungpress.com dan Jurnal yang berisi tentang gabungan antara pendekatan ilmiah kejurnalistikan dengan wacana keilmuan.

Pembagian divisi-divisi dalam struktur organisasi tidak jauh berbeda dengan LPM Suaka, yaitu Redaksi, Riset, Perusahaan dan PDA. Hamzah Zhafiri mengatakan bahwa dalam penggarapan karya mereka selalu membentuk Tim Kreatif yang berfungsi untuk membagi tugas-tugas dari masing masing divisi. Dalam pengambilan isu Balairung mengerahkan seluruh anggota. “Saat diskusi mencari isu, yang boleh mengajukan isu bukan hanya dari Redaksi dengan pertimbangan SUKAKOVI yaitu signifikan, urgen, kedekatan, aktual, komersil dan visual,” ujar Hamzah.

Bergeser ke kampus sebelah yaitu Universitas Negeri Yogjakarta kami bertemu dengan teman-teman dari Ekspresi. Jika Balairung memiliki jurnal, teman-teman dari Ekspresi menerbitkan buku sebagai salah satu karyanyanya yang utama selain Ekspedisi Buletin, Majalah dan Ekspresi online. Taufik Nurhidayat Pemimpin Umum Ekspresi menjelaskan bahwa buku menjadi tempat wacana berkumpul hasil dari diskusi-diskusi, hingga sekarang ada sekitar 11 buku yang sudah terbit antara lain, Online, Galeh Urban, Sang Guru, Pemain Kedua Belas, Karnaval Caci Maki, Jagat Upacara, Ruang Kota, Muslim tanpa mitos dan masih banyak lagi.

“Selain sebagai sarana aspirasi kami juga melakukan advokasi masalah yang terjadi di masyarakat, hasilnya kami tuangkan dalam bentuk tulisan dan kami sampaikan dalam diskusi-diskusi, guna memantik teman-teman mahasiswa lainnya” papar Taufik, Sabtu (29/11).

Untuk mengasah skill para jurnalisnya dalam peliputan Ekspresi mengadakan pelatihan dua kali. Akhmad Muawal H Kepala Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) mengatakan selain Diklat Dasar Jurnalistik, ada pula Orientasi Intelektual yang pembahasan materinya antara lain seperti transformasi agama, analisis gender, dan analisis framing.

Wawasan dibutuhkan untuk memberi ruh pada wacana. Gerakan pers mahasiswa memiliki kekuatanya masing-masing dalam ranah tersendiri. Seperti yang dipaparkan oleh teman-teman pers kampus dari Pendapa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Isnan Waluyo Pemimpin Umum Pendapa menyayangkan penyakit-penyakit yang kerap menghampiri pers kampus. “Konsolidasi antara pers mahasiswa masih kuat tetapi jika dibenturkan dengan isu bersama masih tidak sejalan saling berbenturan,” katanya.

Hal seperti ini yang menjadi keresahan bersama pers kampus. Ahmad Jamaludin, Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Arena Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta angkat bicara soal idelanya pers kampus. “Kedudukan pers mahasiswa sebagai pers alternatif yang syarat dengan intelektual tidak melulu teknis, tetapi bagaimana menyampaikan aspirasi dari kalangan bawah ke kalangan atas. Idelanya pers mahasiswa memacu perubahan sosial.”

Pers mahasiswa sekali lagi menjadi corong atas pemikiran dan ideologinya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s