Follow Your Conscience

Hampir seharian, saya diajak seorang teman pergi berkunjung (kami sudah menganggapnya keluarga). Ia seorang Pengacara dan suaminya adalah seorang aktivis buruh, sastrawan dan pegiat hukum. Kami berdiskusi masalah buruh, kasus asusila, video porno, moral aktivis,  kejadian lucu, dan tentang rasa masing – masing.
Suasana diskusi santai dengan sesekali gelak tawa kami terderai bersama rintik hujan. Kami berdiskusi hangat diruang tamu,  Sarijadi – Pasteur diguyur hujan.

Saya masih ingat betul pertama kali bertemu dan berkenalan dengan mereka, tepat hampir setahun yang lalu. Saat itu saya sedang meliput Mayday (Hari Buruh 1 Mei) dan ia adalah salah satu narasumber yang saya wawancarai terkait pendampingan para buruh dalam melawan perusahaan di Pengadilan. Tentu atas rekomendasi dari teman saya itu.

Gaya bicara yang jujur dan apa adanya membuat saya takjub. Saya kira setelah pertemuan pertama tidak ada lagi pertemuan selanjutnya. Ternyata, teman saya sering bertemu dengannya, (sekarang ia jadi muridnya hehehe) karena mereka berada dalam dunia yang sama. Dunia Hukum. Teman saya itu takdzim, dan menganggapnya sebagai kaka dan guru sekaligus. Saya beberapa kali diajak  untuk sekedar makan dan diskusi santai.

Ada hikamah yang saya renungi, dari perkenalan saya dengan pengacara perempuan ini. Saya bisa melihat perspketif yang berbeda dari kacamatanya. Bahawa ia sebagai perempuan yang tangguh,  totalitas dalam profesinya, juga menanamkan cinta yang wajar dan manis pada orang – orang sekitarnya. Ia akan bicara suka atau tidak suka dengan jujur. Terlepas ucapannya berujung manis atau pahit, yang terpenting adalah bahwa ia berani mengatakan seada –adanya.

Kejujuran membawa pada sebuah intropeksi diri. Jika kita mempermasalahkan judge yang dilebeli pada diri kita, sebenarnya itu bukanlah masalah kita, tetapi masalah mereka. Biarlah orang lain men-judge sesuka hati toh kita memiliki nilai – nilai yang kita anut tersendiri.

Dalam lamunan saya ngaco, kebenaran dan moral pada akhirnya bergantung pada subjektifitas masing – masing. Sebagai individu yang memiliki tolak ukur nilai keduanya secara terpisah.

Kalau “be your self” masih berlaku hingga sekarang, dan kalian udah bosen dengernya. Saya ganti dengan “follow your conscience.” Karena sebenarnya nurani kita telah terbentuk bersama dengan pengalaman, apa yang kita yakini, serta lingkungan. Semua berhimpun dan menjadi nilai – nilai ukuran dalam bertindak dan memandang segala sesuatu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s