Bidadari dan Pencuri Selendang

Selasa pagi saya membaca koran. Bukan koran hari yang sama tetapi saya membaca koran hari minggu. Disana ada rubrik sastra, saya suka berlama – lama membaca koran hari minggu. Ada sebuah cerpen yang mengisahkan sungai Serayu, dimana para bidadari dari Khayangan yang jauh itu sering turun untuk mandi. Saya memiliki kisah tersendiri.

Tentang bidadari yang (katanya) turun kebumi untuk sekedar mandi. Saya curiga kamar mandi di Khayangan selalu mampet airnya, atau mereka memang sengaja turun ke bumi untuk traveling dan menikmati air sungai yang hijau dipenuhi  lumut dan aneka ganggang lainnya. Saya membayangkan bidadari yang cantik dengan berbagai anggapan cantik yang lumrah tentu dengan tubuh yang disenangi oleh pengiklan produk kecantikan seperti bibir merah, kulit putih, badan langsing, tidak ada bulu ketiak juga jerawat. Biasanya mereka mandi bersama – sama sambil tertawa cekikan. Belum lagi (katanya) mereka menanggalkan selendang – selendang mereka di atas bebatuan pinggir sungai.

Tentang laki – laki yang (katanya) mengintip lalu mencuri selendang bidadari. Mereka tidak sengaja mendengar suara cekikan bidadari kalau sudah bermain air (kalau saya sih nyanyi di kamar mandi aja gak boleh) kemudian mereka sengaja mencuri selendang bidadari. Padahal saya kira bidadari tidak perlu risau dengan selendang yang dicuri. Toh ia memiliki banyak selendang dengan berbagai merk.

Laki – laki pencuri selendang berharap banget si bidadari akan menjadi istrinya kemudian mengubah hidupnya yang kacau balau dengan kekuatan bidadari. Padahal ia harus mengetahui satu hal, ketika manusia menikahi bidadari maka kekuatan dan kecantikan yang sangat itu akan berubah menjadi hal yang lebih luar biasa. Bidadari akan menjadi perempuan dengan daster batik yang kegedaan, menggendong anaknya dengan jarik, menyapu halaman dengan sapu lidi serta peluh yang lengket di dahi serta gelungan rambut yang berantakan.

Laki – laki pencuri selendang ternyata sudah memiliki indra keenam yang yahud. Ia sudah memprediksikan hal semacam itu sebelum benar – benar mencuri selendang. Dalam bayangannya, bidadari tambah seksi saat mencuci popok bayi, menyetrika, menjemur pakaian dan saat tubuhnya membesar karena hamil. Laki – laki pencuri selendang ternyata tidak menggerutu apalagi menyuruh ini –itu. Ia  malah membantu si bidadari yang kelak menjadi istrinya dalam menyelesaikan setiap pekerjaan dirumah. Ia membantu membuang sampah, mengajak anaknya bermain, memperbaiki bagian rumah yang rusak, memijat serta memberi lelucon untuk sekedar agar istrinya (si bidadari ) tersenyum, lebih mengharukan adalah si laki – laki pencuri selendang sudah menyiapkan jadwal untuk kebersamaan mereka seperti berenang, memancing, naik gunung, pergi ke pasar serta nonton bioskop bareng.

Lamunan laki – laki pencuri selendang akhirnya buyar, seiring mendekatnya bidadari. Kemudian  berdiri dihadapannya. Tetapi bidadari tidak meminta kembali selendangnya. Ia juga ternyata memiliki indra keenam yang sama. Ia telah mengetahui kolaborasi antara manusia dan makhluk dari Khayangan tentu akan ada hikmahnya. Ia juga tahu, Tuhan akan tersenyum kepadanya. Bukan lagi soal cinta, ini soal menyelaraskan perbedaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s