Anak Tiri Ibu Pertiwi

Gambar

Foto : Pribadi

Kami anak jalanan Indonesia mengaku masih lapar dijalanan

Kami anak jalanan Indonesia mengaku masih kurang pendidikan

Kami anak jalanan Indonesia mengaku masih kurang kesehatan

Deklarasi anak jalanan dipadu dengan lagu Indonesia Raya beserta teatrikal sederhana.  Sekitar sepuluh anak berlatih membaca deklarasi, bernyanyi juga membaca puisi. Ruangan tempat mereka berlatih tidak terlalu besar. Tapi tentu tidak menyekat ruang kreativitas mereka.

Sebuah rumah di Jalan Sukaresmi no 111 Dago Bengkok, kerap menjadi sorotan sebagai rumah anak – anak jalanan. Tentu karena menjadi tempat berkumpulnya anak – anak jalanan. Priston si empunya rumah sudah terbiasa dengan tingkah laku anak – anak hasil dari didikan jalanan, tempat dimana mereka bergelut setiap hari. Umurnya relatif dari lima hingga belasan tahun.

Fasilitas yang disediaka secukupnya. Ada satu rak buku bacaan diruang tengah dan alat – alat bermusik dilantai dua dengan dipan kayu sebagai tehelnya. Tetapi sudah bisa menyalurkan serta mengembangkan potensi dalam diri anak – anak. Setidaknya mengarahkan mereka dalam bermain musik.

Nyanyian Indonesia Raya yang mereka bawakan terdengar pilu. Ada kerisauan yang tengah mereka pikirkan. Kebijakan Peraturan Daerah tentang K3 (Kebersihan, Keindahan, Kenyamanan) yang mengintruksikan agar menertibkan anak – anak jalanan merupakan kebijakan yang berkontribusi besar menyiutkan hati mereka.

Disadari atau tidak fenomena anak jalanan memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Akar permasalahan yang mendasari adanya anak jalanan, haruslah kita pahami terlebih dahulu. Sebelum akhirnya mengambil langkah – langkah dalam upaya melindungi serta memberikan hak – hak anak jalanan. Dalam hal ini Priston seorang seniman juga yang peduli terhadap anak jalanan angkat bicara. Menurutnya fenomena yang mendasari adanya anak jalanan adalah karena krisis kemanusian. Dimana adanya sebuah penurunan kualitas hidup sumber daya manusia. Baik dari segi kualitas kesehatan fisik, kualitas kesehatan mental dan kualitas kesehatan pemikiran.

“Krisis kemanusia seperti itu yang membawa manusia pada ketidak produktif-an, kualitas hidup yang menurun akan mendorong mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan cara – cara yang mudah menghasilkan uang seperti turun kejalan.” Jelas Priston (5/10).

Krisis kemanusian adalah faktor utama yang berdampak anak turun ke jalan, bahkan dalam jumlah yang tidak sedikit. Perlu ditekankan lagi bahwasannya perilaku kecenderungan negatif yang sudah tercap pada diri mereka tidak serta merta kita salahkan begitu saja. Faktor lingkungan tempat mereka berkembang tidak memiliki akses pendidikan serta pengarahan – pengarahan moral yang berlaku dalam masyarakat. Akibatnya bukan hanya isapan jempol belaka, jika kebanyakan dari mereka berprilaku menyimpang dari apa yang masyarakat yakini sebagai moral atau perilaku sosial yang patut.

Hal diatas seharusnya menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi penyelenggara kota khususnya Kota Bandung. Bukankah sudah jelas dalam Undang Undang Dasar Pasal 34 ayat (1) disebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak – anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Artinya Negara serta perangkatnya sudah tentu harus memberikan upaya – upaya kesejahteraan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Deden Efendy Kepala Pusat Penelitian Universitas Negeri Sunan Gunung Djati Bandung menjelaskan fenomena  anak jalanan dari sudut sosiologi.

“Beberapa faktornya adalah pertumbuhan ekonomi yang timpang, percepatan pertumbuhan kota dan pembangunan sehingga meledaknya kaum urban yang hijrah ke kota.” Jelas Deden Efendy.

Adapun tentang kebijakan pemerintah, beliau berpendapat bahwa seharusnya pemerintah bisa menyelesaikan akar permasalahannya terlebih dahulu.

“Untuk meminimalisir banyaknya anak – anak yang turun dan bekerja di jalan, pemerintah harus bisa mengatasi faktor – fakor permasalahannya terlebih dahulu. Seperti mengurai kesulitan ekonomi dengan cara koordinasi sinkronisasi program – program sosial misalnya dengan meningkatkan program kerja Dinas Sosial.” Papar Deden Efendy (6/10).

Atas dasar kepedulian terhadap anak jalanan yang menjadi anak tiri di negerinya sendiri, maka Santi Safitri berinisiatif membuat sebuah organisasi kemasyarakatan bernama Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) Dewi Sartika. Menangani permasalahan komunitas jalanan seperti anak jalanan serta memberikan pengarahan terhadap orang tua mereka.

Khusunya terhadap ibu dari anak – anak jalanan. Mereka di beri pengarahan untuk memiliki kesadaran akan pentingnya kemandirian. Sehingga semangat kemandirian akan tertular pada anak – anak mereka. Dengan begitu akan ada upaya mengasuhan yang lebih baik untuk anak – anak yang terpaksa turun ke jalan.

“Awal – awal terbentuknya KPM Dewi Sartika banyak tantangan, mulai dari problem anak – anak yang susah diatur hingga ibu – ibu mereka yang juga masih sulit untuk diarahkan. Tetapi dengan niat yang besar saya dan kang Priston tetap pada pendirian untuk kemandirian mereka.” Terang Santi Safitri ketua KPM Dewi Sartika (5/10).

Visi misi-nya sendiri sudah jelas, yakni KPM Dewi Sartika sebagai organisasi kemasyarakatan memperjuangkan hak – hak masyarakat yang termarjinalkan menuju kemandirian dan mewujudkan manusia yang cerdas, bermartabat, hidup sehat, dan sejahtera. Dengan begitu taraf hidupnya akan lebih baik.

Tidak kah fenomena anak jalanan menjadi cambuk yang memilukan. Ditengah megahnya kota sebuah negara , terdapat kaum yang dipandang dengan nyinyir. Jangankan mengharap senyum, legitimasi moral yang buruk memaksanya menjadi bagian yang harus dienyahkan guna memenuhi kebijakan kebersihan, keindahan, dan kenyamanan. Anak tiri ibu pertiwi mari nyanyikan untuk kami lagu Indonesia Raya sekali lagi.

*Untuk Tabloid Suaka edisi 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s