Meraba Jogja (Pertama)

“Jika kamu ingin hebat, berpetualanglah !

Karena dunia milik orang – orang pemberani !

(Pepatah Lama)

Gambar

Saya teringat pepatah tersebut ketika melihat buku Travel Writer yang ditulis oleh Gol A Gong. Namun jauh sebelum membaca buku itu, saya menyadari bahwa betapa menyenangkannya bisa bepergian ke tempat – tempat baru yang tentunya akan mendapatkan pengalaman baru yang menarik.

Ketika saya mengingat – ingat kapan tepatnya saya menyukai perjalanan. Dalam pikiran sekelebat saya temukan sebuah nama kota yang tidak asing lagi. Jogja. Destinasi pertama yang saya kunjungi selama lima hari. Menyambangi Jogja dengan menggunakan kereta ekonomi dari Bandung. Semester dua pada saat itu ( sekarang saya semester enam). Bersama sembilan teman, kami berencana mengikuti Jagongan Media Rakyat dimana seluruh pegiat serta komunitas media berkumpul.

Jagongan Media Rakyat acara yang menarik, selama tiga hari mulai pagi hingga menjelang sore. Diisi dengan diskusi, melihat pameran foto, menonton filem dokumentasi, serta ajang pertunjukan lainnya. Dalam satu waktu akan banyak acara yang digelar, jadi tidak mungkin kami mengikutinya semua. Maka dari itu kami sengaja berpencar mencari  acara sesuai selera. Ketika makan siang kami akan saling berbagi cerita, berbagi pengalaman tentang apa yang kami dengar dan lihat.

Selama tiga hari acara yang saya ikuti dalam Jagongan Media Rakyat, antara lain : Diskusi Ibu – ibu Nge-blog ; Diskusi Foto Bercerita ; Menonton Filem Dokumentasi Korban Lumpur Lapindo ; Melihat Pameran Foto Korban Lumpur Lapindo ; Diskusi Radio Komunitas ;  Menonton Filem Meraba Indonesia ; dan masih banyak lagi, dalam satu hari saya bisa mengikuti empat acara.

Pengalaman yang paling asik bagi saya dan teman – teman adalah ketika selama di Jogja kami tidak menyewa penginapan. Kami perpindah – pindah tidur selama tiga hari dan beruntung ketika acara Jagongan Media Rakyat berakhir, kami diperbolehkan untuk menginap di Wisma TNI selama dua hari. Waktu yang tersisa dua hari kami manfaatkan untuk meraba Jogja.

Pagi – pagi sekali kami sudah berkunjung ke Taman Siswa kemudian ke toko buku untuk sekedar lihat – lihat. Jogja memang Kota Pelajar. Antusias yang terlihat dari para pelajar disini bisa di buktikan dengan padatnya para penggemar buku di toko – toko ini.

Didepan Taman siswa saya melihat patung patung para pelopor negeri ini. Mata mereka memandang jauh kedepan. Mungkin mengharap akan Indonesia yang lebih baik. Taman Siswa mengingatkan status saya sebagai serang mahasiswi.

Malam harinya, kami mengunjungi jalan Maliboro yang sangat tersohor. Saya membeli tas bertuliskan I Love Jogja (untuk mengingatkan pada tempat ini). Setelah puas berjalan – jalan di Malioboro, kami mumutuskan untuk  berjalan ke dekat stasiun tugu. Kami menyebrangi perlintasan kereta api. Di sebelah kiri ada warung angkringan yang berjejer menunggu para pemburu nasi kucing. Saya memesan nasi kucing dan kopi susu jos. Kopi susu jos, sebenarnya kopi susu biasa tetapi dalam penyajiannya dicampur dengan potongan areng (kayu yang dibakar sebelum menjadi abu). Agak aneh saat melihatnya, tetapi ketika mencoba rasanya enak dan ini menjadi menu yang tidak boleh terlewat ketika bertandang ke Jogja. Nasi kucing dan kopi susu jos.

Agar meraba Jogja lebih terasa, kami memutuskan untuk berjalan kaki dari Maliboro menuju Alun – Alun Selatan Jogja. Cukup lama kami berjalan kaki, hingga sempat berhenti untuk istirahat. Setelah sampai di Alun – Alun Selatan, kami dikejutkan dengan pemandangan yang unik. Alun – alun dipenuhi oleh sepedah berlampu warna – warni. Sepedah yang bisa dikayuh secara bersama – sama ini kami sewa selama satu jam.

GambarFoto : Istimewa

Rasa lelah yang dirasa tiba – tiba hilang terserap oleh kegembiraan menaiki sepedah lampu. Kami tertawa – tawa lepas, ketika mengadakan balapan legal kepada sesama pengguna sepedah. Ini menjadi malam yang cerah melebihi kecerahan lampu berwarna – warni.

Kami tidur dengan nyeyak.

Taman Sari menjadi destinasi yang kami tuju selanjutnya. Saya terpukau akan kemegahan bangunan Taman Sari  yang (katanya) dulu merupakan pemandian para putri  – putri keraton.

Gambar 

Foto : istimewa

Saya jadi membanyangkan bagaimana para putri berendam ditempat ini, kemudian melakukan perawatan mengunakan rempah rempah 😀

Tidak jauh dari Taman Sari, kami juga pergi ke masjid yang berada di bawah tanah. Seperti Goa. Gelap dan Lembab. Ditengah – tengah masjid ada sebuah tempat yang terbuka (seperti sebuah pusat)  digunakan untuk Adzan. Ketika memasuki ruangan ini, aura mistis menjalar. Mengingat sebuah ibadah kepada sang khalik yang dikerjakan secara sungguh oleh orang terdahulu.

Ketika malam menjelang, kami sudah asik duduk lesehan di Alun – alun utara. Minum kopi dan makan jagung. Sebelumnya kami juga mencicipi Oseng Mercon yang lumayan pedas.

Di Alun – alun Utara Jogja kami saling bercerita banyak hal. Hingga lewat tengah malam. Kami masih  betah belum mau beranjak.

Sebelum kembali ke Bandung, kami menyempatkan untuk berjumpa kembali dengan Maliobro. Jalan tersohor di Jogja. Tiket kereta menunjukan tanggal dan waktu dimana kami harus kembali. Menyandang ransel yang agak berat (karena ditambah dengan oleh – oleh) kami berjalan menuju Stasiun Lempuyangan. Menunggu peluit kereta dibunyikan.

*Tidak ada foto pribadi (saat di Jogja) yang dapat diabadikan

* Tulisan ini dibuat karena merindukan perjalan tanpa ada kata “Kapan sampai? Masih jauh?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s