Toleransi di Supermarket Iman

1 (1)

…Menerima hidup bersama

dengan golongan – golongan yang berbeda.

Lalu duduk berunding

tidak untuk berseragam

tetapi untuk membuat agenda bersama.

Aparigraha…

Masing – masing pihak menanggalkan pakaian

menanggalkan lencana golongan lalu duduk bersama.

Masing – masing pihak hanya memihak kepada kebenaran.

 

Sebelum acara seminar bertajuk toleransi dimulai, disuguhkan selarik puisi berjudul ; Inilah Saatnya karya WS Rendra yang menggema memenuhi ruangan. Gemercik hujan menambah syahdu dan tiap baitnya terasa mengental.

Pukul Tujuh malam, peserta diskusi semakin memadati ruangan. Sebagian duduk lesehan karena tak dapat kursi. Dialog lintas keberagaman dan isu toleransi tak pernah sepi peminat.

Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 05 merupakan saksi atas rangkaian acara yang digelar oleh Bandung Lautan Damai. Sebuah acara yang digagas oleh Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) dan sekitar 15 komunitas yang menjadi rekan pendukung. Bandung Lautan Damai atau BALAD didedikasikan untuk menyambut hari Toleransi Internasional pada 16 November. Azizah sebagai ketua koordinator seminar mengatakan bahwa pada hari ini telah duduk bersama dalam satu ruangan dari berbagai agama serta golongan untuk membicarakan tentang keberagaman.

Wawan Gunawan seorang Budayawan juga Ketua dari Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) memoderatori dialog toleransi keberagaman yang akan menjadi modal peradaban khususnya di Kota Bandung.

Pelbagai agama, ras, etnik dan golongan sudah dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia bahkan semuanya telah berjuang merebut kemerdekaan Indonesia 68 tahun silam. Rasa Nasionalisme yang tinggi bisa mendorong lahirnya kesatuan, namun tetap harus ditopang oleh agama sehingga keselarasan hidup antarumat beragama di Indonesia akan terjalin dengan indah.

Pendeta Albertus Patty dari GKI Maulana Yusuf memulai pembicaraan dengan beberapa hal yang dapat membuat sebuah harmoni keberagaman bisa kandas. Pertama adalah rasa primordial yan berlebihan berdasarkan agama, ras, atau suatu golongan. Kedua, ketidakadilan dan ketidakmerataan dalam hal ekonomi yang dapat menbuka lebar – lebar jurang kesenjangan. Lalu yang ketiga, adalah pemangku kebijakan yang turut andil dalam mempolitisasi keberagaman sehingga merosotnya nilai – nilai toleransi.

Selain itu media juga berpengaruh penting dalam menciptakan atmosfir toleransi dan meneriakan perdamaian kepenjuru negeri. Isu kebergaman seharunya dimunculkan kehadapan publik. Untuk menciptakan rasa saling menjaga bersama- sama.

“Jurnalis dan media bisa melakukan upaya dalam toleransi keberagaman dengan menyuarakan orang – orang yang tidak tersuarakan.” Ungkap Rana Akbari Fitriawan fasilitator kedua, merupakan seorang Jurnalis yang konsen terhadap isu keberagaman.

Dengan tidak membuat berita yang tidak proporsional, melebih – lebihkan masalah yang terjadi antara dua golongan. Menurut Rana, yang paling terpenting dalam memberitakan suatu hal apalagi tentang isu kebergaman yang sensitif adalah pentingnya verifikasi. Serta melepaskan baju identitas yang melekat. Sehingga jurnalis bisa menuliskannya secara jujur.

Pada dasarnya dunia saat ini memang sedang berbenah. Masalah yang dihadapi adalah masalah yang universal bahkan dialami oleh semua agama, ras, etnik, serta golongan di Indonesia.

“Masalah yang timbul adalah masalah bersama, dan untuk menghadapinya perlu adanya upaya bersama .” Ungkap Bambang Q-Annes fasilitator ketiga yang merupakan Dosen Aqidah Filsafat UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tidakkah ini menjadi tugas kita bersama, bahwa toleransi merupakan hal yang tidak bisa ditawar – tawar lagi. Merupakan sebuah investasi menuju peradaban Kota Bandung yang lebih baik. Dimana semakin beragamnya agama beserta alirannya terhimpun dan bersama – sama berjajar rapih dalam supermarket iman membutuhkan toleransi sebagai mata uang yang berlaku. Sudah saatnya Bandung menjadi lautan damai, sudah saatnya Bandung menjadi kota pelopor bertoleransi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s