Basa Sunda ; Akankah Punah dalam 100 Tahun

Gambar

                Indonesia adalah negara dengan beribu pulau.  Memiliki banyak suku bangsa yang tersebar hingga ke pelosok negeri. Menghasilkan keanekaragaman budaya serta bahasa. Tak heran jika Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara yang memiliki bahasa terbanyak. Persentasenya sekitar 85% masyarakat Indonesia masih menggunkan bahasa daerah saat berkomunikasi.. Bahasa daerah menjadi bahasa kedua setelah Bahasa Indonesia. Salah satu bahasa daerah yang banyak di gunakan di bagian pulau Jawa sebelah barat adalah Bahasa Sunda. Bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari hari di bumi parahiyangan. Sekarang  menimbulkan kegelisahaan. Keberadaanya sudah terancam dengan bahasa – bahasa asing yang lebih intensif diajarkan di sekolah – sekolah. Juga pencampuran bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Membuat bahasa sunda tergradasi. Jika keadaan terus berlarut – larut.  Maka bahasa sunda ataupun bahasa daerah lainnya akan mengalami kepunahan dalam kurung waktu 100 tahun. Ada baiknya sebelum hal itu terjadi maka perlu adanya langkah preventif. Melestariakan Bahasa Sunda.

                 Hal inilah yang menjadi perhatian oleh kalangan akademisi serta pegiat bahasa dan sastra. Seminar bertajuk ; “Bahasa Daerah, (Suku) Bangsa, dan Kurikulum 2013”. Digelar di Bale Rumawat Universitas Padjajaran Bandung, Rabu, 27 Maret 2012 lalu.  Menampilkan 6 pembicara yang mempresentasikan pelbagai masalah yang dihadapi oleh bahasa daerah khususnya bahasa sunda. Salah satunya seorang profesor juga pendidik dari Universitas Pendidikan Indonesia C W Watson. Memberikan perbandingan dengan bahasa daerah dari negara lain. Bahasa Welsh adalah bahasa yang di gunakan salah satu wilayah di Inggris bernama Wales. Mengalami kemerosotan yang cukup drastis. Persentasinya adalah saat tahun 1850 sekitar 80% masyarakat wales menggunakan bahasa daerahnya. Ketika memasuki tahun 1991 hanya tersisa 18.7% yang menguasai bahasa welsh. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kepunahan bahasa welsh. Jika diamati dengan baik gejala gejala yang timbul tidaklah jauh berbeda dengan gejala yang dihadapi oleh masyarakat sunda.  Beberapa diantaranya adalah, migrasi yang berkelanjutan dilakukan oleh masyarakat desa ke kota. Tentunya ini menyebabkan berkurangnya penutur bahasa daerah. Juga sebaliknya, ada masyarakat kota yang pindah kemudian menetap ke desa. Menyebabkan percampuran bahasa. Selain migrasi faktor lain yang membuat bahasa daerah tersingkirkan adalah media massa. Baik di Wales atau di Jawa Barat sekarang, media massa menyuguhkan berbagai informasi menggunakan bahasa utama, Bahasa Indonesia. Sama sekali tidak memberikan celah untuk bahasa – bahasa daerah lainnya. Juga lemahnya dukungan dari penunjang kebijakan. Lebih mengejutkannya lagi, kebanyakan masyarakat cenderung menganggap kuno atau kurang pentingnya bahasa daerah.   

                “Apa yang hilang jika kita kehilangan bahasa ?”

                “ Adalah kehilangan budaya, jika kita kehilangan keanekaragaman bahasa maka kita akan kehilangan segalanya.”  Seperti itulah pernyataan Prof. Bambang Hidayat ketika membicarakan tentang bahasa daerah sebagai warisan budaya. Semboyan yang melekat adalah bahasa menunjukan bangsa. Bahasa adalah tiang dari budaya dan daerah itu sendirilah yang menjadi bangunannya.

                Di era global yang serba canggih dan berbudaya visual. Tentunya fenomena global menantang Bahasa daerah khususnya Bahasa Sunda untuk terus hidup dan berkembang. Jangan sampai terjadi mengerucutan dan pengecilan bahasa di tengah bahasa asing yang semakin mendunia. Prof. Iwan Pranoto menekankan bahwa antara bahasa nasional, bahasa daerah dan bahasa internasional (asing) memiliki peran yang berbeda.

“ Pengertian yang keliru jika mencintai bahasa daerah berarti mengabaikan bahasa nasional dan bahasa internasional. Padahal ketiganya memilki fungsi yang berbeda.” Ujar Prof. Iwan Pranoto. Dosen Ilmu Budaya Sastra Universitas Padjajaran disela – sela memoderatori acara seminar kebudayaan.

Rektor Universitas Padjajaran , Prof. DR. Ganjar Kurnia, D .E .A angkat bicara tentang bahasa sunda ketika menjadi salah satu pembicara. Beliau menyinggung masalah dihapuskannya Bahasa Sunda dikurikulum 2013 menjadi sebuah tantangan untuk pendidik. Khususnya Jawa Barat daerah yang menjadi wilayah berbasis sunda. Gunakan kesempatan – kesempatan yang ada dengan menciptakan inovasi terbaru.

“Integrasikan bahasa sunda melalui kesenian, dengan mengajarkan nyanyian – nyanyian atau kebudayaan yang lainnya. Mengajarkan bahasa sunda ke anak – anak  kudu beuki lila, beuki resep ( harus semakin lama, semakin suka).”              

Dengan begitu bahasa daerah khususnya bahas sunda akan terus melekat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakatnya. Pelestarian bahasa daerah menjadi tugas kita bersama. Bukan hanya untuk akademisi dan pegiat bahasa.  Mari bersama – sama menyadari pentingnya bahasa sebagai identitas budaya. Karena orang- orang yang memilki budaya tinggi adalah mereka yang akan memenangkan pertarungan kebudayaan. 

 

*Dimuat dalam Harian Kompas rubrik Kompas Kampus. Selasa 2 April 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s