Puluhan Kilometer

Gambar

Suatu ketika bayang yang telah jauh puluhan kilometer, menghadap di depanmu. Ia mengangguk tersenyum lalu menyilakan-mu untuk duduk kemudian menuangkan teh aroma camomile dalam sebuah cangkir putih berukir.

Rasa – rasanya sudah asing, tetapi masih ada serpihan kecil yang mencari – cari serpihan lainnya. Dalam senja yang masih memerah. Ia mencari serpihan itu. Ia cari ke sudut juga ke kolong – kolong meja.

Ledakan dahsyat beberapa waktu silam, hanya menyisakan serpihan tak bernama. Di taruhnya dalam kantung yang ia bawa setiap hari. Bayangan itu kini duduk dihadapanku, tersenyum dan mengangguk lalu memberikan kantung berisi serpihan itu.

“ Sudah lama sekali, kenapa masih disimpan ?” tanyaku

“ Aku masih mencari serpihan lainnya” Ia meyakinkan-ku

Rentang waktu yang panjang, aku kira tak ada gunanya mencari sisa – sisa sehabis ledakan yang dasyat. Semuanya telah menjadi puing. Tak akan ada yang bisa dirangkai lagi.

“Sudahlah lebih baik kau pulang saja, matamu terlihat lelah”

“Apa kau tidak ingin membantuku mencari potongan yang tersisa?” tanya-nya

Senja masih memerah, tetapi rasanya langit di atasku sudah menghitam, tak ada yang bisa aku lihat selain bayangannya. Ruang waktu menjelma pada beberapa tahun silam. Ketika sebuah bom waktu akan segera meledak. Tak ada yang berusaha untuk menjinakan bom, keduanya larut dalam ego masing – masing.

“Aku tak akan membantumu mencari serpihan !” kataku dengan lantang

“Kenapa  ? “

“Kau ini bagaimana? Ada bom waktu yang akan meledak lagi,  jika kau terus mencari serpihan – serpihan yang kau sendiri meragukan untuk bisa merangkainya kembali.”

“. . . . ”

Kali ini langit menggulung warna jingga, membiarkan hal yang terisisa menjadi pemanis ruang. Menjadi figura di dinding, menjadi vas bunga di meja. Ada hal – hal yang perlu dimaknai walau tak bernama. Aku menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Setelah megucapkan selamat jalan padanya. Melongok keluar jendela, aku melihatnya berjalan dengan tenang, ia menyebrang jalan. Menghampiri gadis yang berdiri memegang payung corak bunga. Gadis itu menyambut dengan tatapan manis.

Aku tersenyum, semoga berbahagia selalu.

(10:16 pagi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s