Tanjung Lesung dan Tiga Sembilan

Perayaan sederhana,

gsgsdgh

Hap, aku menyeret kunci sepeda motor lalu mengenakan jaket biru. Udara masih dingin. Pukul 8 pagi. Lalu lalang kendaraan belum banyak. Ini perjalanan kedua mengendarai motor ke Pandeglang, jika aku ingat – ingat perjalan  pertama kedaerah tersebut saat kelas 2 SMK. Ada rentang waktu tiga tahun untuk memulai lagi berkendara jarak jauh. Aku tersenyum saja pada kaca spion dan meluncur menuju jalur alternatif. Petunjuk yang diberitahu oleh Rifyal tidak terlalu berhasil. Aku nyasar. Pukul 9 aku masih menulusuri jalan mencari ujung jalur alternatif . Ingin cepat bertemu jalan utama dan menemukan jalur selanjutnya. Setelah bertanya sana – sini akhirnya bertemu Rifyal di depan minimarket pertigaan Mengger – Pandeglang. Rasanya lega. Sambil bercerita pengalaman nyasar tadi, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Rifyal. Jangan membayangkan jalan yang padat dan gersang. Justru sebaliknya udaranya bersih, sawah di kanan dan kiri menjadi background selama perjalanan.

Dari kejauhan aku mellihat seseorang sedang berdiri dipinggir jalan menggunakan baju hitam, khas-nya. Ketika aku lewat dan berhenti di sebrangnya. Ia terkejut . Ia diam lalu menyakinkan kalau yang dilihatnya adanya benar. Aku panggil saja namanya sambil tertawa – tawa. Air mukanya berubah menjadi merah dan terheran – heran.

Temanku itu masih saja tidak percaya aku berada disini. Lantas deretan pertanyaan muncul darinya. Bukankah aku masih ada di Bandung. Dan bagaimana caranya aku mengendarai motor sejauh ini. Sendirian pula.

Aku cuma tersenyum dan berkedip – kedip saja (Kena deh!)

Perjalanan sebenarnya dimulai pukul 11 Siang, 17 Oktober 2013. Rifyal dan Ima memandu perjalanan. Aku dan temanku mengikuti menjadi ekor. Terik matahari dan suhu pesisir baru terasa setelah memasuki kawasan Labuan. Pemandangan pantai lengkap dengan perahu – perahu nelayan mudah sekali ditemui bahkan dari jalan utama menuju pantai Tanjung Lesung. Terasa kering dan gersang. Setelah menempuh waktu kurang satu jam dari Labuan, akhirnya papan petunjuk berisikan “Selamat Datang di Pantai Tanjung Lesung” kami temui.

Menuju pantai kami melewati rimbunan pohon di kiri – kanan jalan. Daun – daunnya saling menutup diantara celah. Seperti memayungi pengguna jalan. Juga seperti melambai-lambai dengan mesra.

Diujung jalan kami melihat hamparan pasir juga laut yang biru menyambut. Terik matahari terasa menyengat tapi menyengkan. Tidak menunggu waktu lama. Kami langsung berpose bersama pantai Tanjung Lesung sebagai latarnya.

Setelah memotret dari berbagai angle, dari potret sendiri, bertiga,  seluruh badan, setengah badah, hingga hanya telapak kaki yang ditempeli pasir – pasir putih. Kami berbincang disudut pantai, merencanakan untuk mendirikan tenda bulan Desember mendatang. Aroma pantai memang membuat rindu, belum beranjakpun sudah rindu dan ingin memiliki waktu lebih banyak untuk mendengar nada ombak.

***

Hari itu,  aku tak sempat menghitung berapa kali kami tersenyum. -Tiga Sembilan- aku sodorkan di bawah rentetan pohon yang berjajar rapih. Hijau dan menyejukan.

Temanku meniup api jingga.

Menyuapi aku, Ima dan Rifyal. Menurutku  -Tiga Sembilan- terlalu manis, kami memutuskan untuk makan ikan dan cumi bakar saja.

***

Selamat Ulangtahun AJ, karena di 4 bahkan mungkin sampai 5 tahun kedepan tidak ada cerita yang akan dituliskan (cukup disimpan saja).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s